Rabu, 29 Februari 2012

Tugas Awal Peliputan


          Untuk menambah pengetahuan mengenai Peliputan, maka perlu dilakukan pengamatan mengenai hal tersebut. Oleh karena itu saya melakukan wawancara dengan salah seorang yang ahli pada bidang tersebut, yaitu wartawan. Berikut adalah hasil wawancara dengan salah satu wartawan di Radio Guntur, Bapak Suartha “Blotong” mengenai Peliputan :
  1. Pengertian Peliputan
Peliputan berarti melihat atau menerangkan apa yang dilihat. Menurut pandangan seorang wartawan, peliputan berarti melihat sebuah peristiwa dan menuangkannya dalam sebuah tulisan menjadi suatu informasi atau berita. Berita atau informasi yang disampaikan melalui media radio lebih efektif daripada berita yang disampaikan melalui media televisi dan surat kabar. Karena reporter melaporkam langsung berita yang terjadi di lapangan dan secara langsung pula disiarkan melalui radio, sehingga penyampaian informasinya lebih cepat dan dapat membawa pengaruh seolah-olah pendenagr berada di TKP (Tempat Kejadian Perkara).

  1. Konsep Peliputan
Dari tahun 1999, Radio Guntur mempunyai program pemberitaan yang dibentuk oleh UNESCO. Jargon atau moto dari Radio Guntur adalah “Akurat, Seimbang dan Tidak Memihak”. Dari jargon itulah Radio Guntur mengimplementasikan konsep peliputan atau pemberitaan. Di sisi lain, Radio Guntur juga mengacu pada kode etik jurnalistik yang berlaku secara nasional, meliputi larangan, arahan dan bimbingan.

  1. Unsur Layak Tidaknya Berita
-          Memenuhi 5W+1H.
-          Keberimbangan dan tidak memihak siapapun.
-          Pendukung, seperti hasil suara yang bagus dan jernih.

  1. Dasar-dasar Peliputan
Mengacu pada konsep peliputan atau pemberitaan, yang diawali dengan rapat redaksi. Rapat redaksi tersebut bisa dilakukan baik dalam situasi formal maupun nonformal. Yang menjadi pembahasan dalam rapat tersebut adalah membuat sebuah perencanaan sebagai dasar atau awal untuk melakukan peliputan. Rapat redaksi biasanya diikuti oleh seorang manager pemberitaan sebagai penanggung jawab, redaktur, editor, reporter dan wartawan.

  1. Strategi Peliputan
a.       Perencanaan, melakukan investigasi dan pengembangan berita. Investigasi harus melalui perencanaan yang matang, mengenai apa yang akan kita investigasi, siapa saja yang terlibat, bagaimana kasus ini dan apa yang didapat.
b.      Peristiwa yang tidak terencana. Sebagai wartawan harus bergerak sesuai prosedur, agar terhindar dari bahaya dan tidak menjadi korban saat meliput suatu peristiwa.
c.       Membangun jaringan atau akses dalam mendapatkan informasi. Dapat bekerja sama dengan teman, mahasiswa, maupun preman.
d.      Menguasai data, agar data yang didapat kuat dan akurat. Misalnya, data berupa angka juga harus akurat agar dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
e.       Fakta yang terjadi di lapangan dan fakta-fakta tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak  sapat dipisahkan.

  1. Hambatan dalam Memburu Berita
Secara pribadi, narasumber tidak memiliki kendala atau hambatan yang berarti. Namun, sebagi wartawantentu memiliki hambatan, seperti tidak bertemu dengan narasumber, sedangkan deadline juga harus dikejar. Menunggu terlalu lama dan berhadapan dengan orang-orang yang tidak mengerti disaat meliput, seperti preman. Cuaca buruk juga terkadang menjadi hambatan, karena dapat menunda peliputan di lapangan.

  1. Proses Menghimpun Berita
Diawali dengan sebuah perencanaan, yaitu melakukan rapat redaksi. Dalam rapat tersebut diatur berita-berita yang akan disiarkan dan peristiwa-peristiwa yang tidak terencana. Kegiatan-kegiatan jurnalistik dalam proses menghimpun berita di lapangan, meliputi menghimpun data, mencari narasumber, melakukan wawancara. Jika sudah deadline, wartawan akan kembali ke kantor atau studio untuk melakukan proses pemberitaan. Seperti editor yang bertugas mengedit berita berdasarkan narasumber dan mengedit bahasa yang kurang dimengerti. Setelah pengeditan selesai, lanjut ke proses rekaman yang akan disampaikan oleh penyiar.

  1. Pengalaman Wartawan
Pada tahun 1999, pernah terjadi kerusuhan dimana-mana karena kekalahan Megawati dalam menjadi presiden. Hal tersebut tentunya mengundang kemarahan masyarakat Bali sebagai mayoritas pendukung Partai PDI Perjuangan. Khususnya di Kota Singaraja, sepanjang jalan banyak warga yang membuat kerusuhan, seperti membakar pos dan ban di tengah jalan, serta menutup jalanan, sehingga mengakibatkan warga tidak dapat melintas. Hal tersebut juga dialami oleh Pak Suhartha, atau yang biasa dikenal dengan Pak Plotong. Ia tidak dapat melintas di sekitar jalan Banyuning dengan menggunakan sepeda motor, karena jalanan ditutup. Akhirnya iapun meninggalkan sepeda motornya dan berjalan kaki selama melakukan peliputan, terlebih lagi kerusuhan tersebut berlangsung selama tiga hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar